Selasa, Maret 15, 2011

Festival Di Jepang

Festival di Jepang merupakan acara tradisional yang berhubungan dengan perayaan tertentu. Beberapa festival mempunyai asal-usul dari festival yang juga awalnya ada di China tetapi telah mengalami perubahan dramatis dengan tradisi lokal.

Beberapa malahan benar-benar berbeda yang tidak memiliki kemiripan dengan festival “aslinya” walaupun memiliki nama dan waktu yang sama. Terdapat pula beberapa festival lokal (seperti Tobata Gion) yang bahkan tidak diketahui di luar prefektur lain.

Masyarakat Jepang pada umumnya tidak merayakan Tahun Baru China~karena telah tergantikan oleh Tahun Baru Barat pada akhir abad 19~, tetapi warga China yang bertempat tinggal di Jepang masih merayakannya. Di Yokohama, terdapat pecinan terbesar di Jepang, dimana turis dari segala penjuru di Jepang datang untuk menikmati perayaan tersebut. Hal ini juga mirip dengan festival lampion di pecinan Nagasaki.

Festival biasanya terdiri dari satu atau dua acara utama, dengan stan-stan makanan, pertunjukan, permainan untuk membuat pengunjung tetap betah dan terhibur.

Matsuri

Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, festival biasanya disponsori oleh kuil ataupun diadakan bukan yang bersifat kepercayaan. Biasanya setiap daerah memiliki setidaknya satu matsuri di akhir musim panas atau awal musim gugur, kadang berhubungan dengan panen.

Kita dapat menemukan stan-stan di sekitar matsuri yang menjual souvenir atau makanan seperti takoyaki, atau yang menyediakan permainan seperti menangkap ikan koki. Selain itu ada juga kontes karaoke, pertandingan sumo, dan hiburan-hiburan lain yang tersedia.

Berikut ini beberapa festival yang terkenal di Jepang

Nen Gajyou/ New Years Card

Di Jepang, ada tim Special New Years Mail atau Nen Gatoku Betsuyuubin
yang diresmikan tahun 1899 di Era Meiji dan masih ada sampai sekarang,
walaupun tim ini sempat di skors sementara setelah Perang Dunia II.
Kurang lebih ada 4 juta kartu ucapan yang dikirim setiap awal tahun.
Akan tetapi, karena perkembangan zaman, kartu ucapan tahun baru biasanya
dikirim lewat internet dan kartu ucapannya pun bisa dibuat sendiri
dengan berbagai bentuk expresi. Meskipun begitu, banyak orang Jepang
yang masih memilih untuk menggunakan kartu ucapan yang ditulis sendiri,
karena terdapat makna yang lebih dalam. Dan bagi orang Jepang, mengirim
kartu ucapan adalah hal yang sebaiknya dilakukan untuk mempererat
hubungan.

O-misoka (31 December)

Masyarakat Jepang membersihkan rumah (Osoji) untuk menyambut tahun baru dan untuk menghilangkan pengaruh tidak baik. Banyak warga yang mengunjungi kuil Buddha untuk mendengarkan bel berbunyi sebanyak 108 kali ketika malam hari (joya no kane). Hal ini dilakukan untuk mengumumkan bahwa tahun lama telah dilewati dan tahun yang baru telah datang. Alasan kenapa dibunyikan 108 kali adalah karena penganut Buddha percaya manusia digoda 108 macam hasrat dan nafsu duniawi (bonno). Dengan tiap kali bunyi, satu hasrat dihilangkan. Menjadi adat juga bahwa memakan toshikoshi koba (mie melewati tahun) diharapkan bahwa seluruh keluarga mendapat keberuntungan layaknya sepanjang mie yang panjang.

Oshogatsu (1-3 Januari, walaupun perayaan juga dilakukan selama bulan Januari)

Tahun Baru adalah even tahunan yang paling penting dan terperinci di Jepang. Sebelum Tahun Baru, rumah dibersihkan, hutang-hutang dibayarkan, dan osechi (makanan yang di baki untuk Tahun Baru) disiapkan ~atau dibeli. Osechi adalah makanan tradisional yang dipilih karena warna keberuntungan, bentuk, atau nama yang menarik dengan harapan untuk mendapatkan keberuntungan dalam berbagai segi kehidupan selama tahun yang baru. Rumah didekorasi dan hari libur dirayakan dengan berkumpulnya keluarga, mengunjungi kuil, dan menghubungi sanak famili dan sahabat. Hari pertama dari tahun (ganjitsu) biasanya
dilewatkan bersama keluarga.

Shimezakari/ Menghias Jerami Suci

Shimezakari diletakkan di dalam rumah pada saat tahun baru dengan
tujuan untuk memusnahkan jiwa iblis, mencegah kutukan dan sebagai
pembawa keburuntungan. Bukan hanya di dalam rumah yang dihias
Shimezakari, tapi mereka juga mengikatkan Shimezakari di motor sebagai
permohonan agar terhindar dari marabahaya.

Seijin No Hi/ Coming Of Age Day

Dirayakan setiap tanggal 15 Januari. Bagi kaum muda yang usianya
mencapai 20 tahun mengadakan upacara Seijin Shiki. Karena di Jepang usia
20 tahun sudah diperbolehkan mengkonsumsi alkohol dan merokok. Ketika
seseorang belum mencapai usia 20 tahun, dianggap banyak yang melakukan
perbuatan kriminal. Pelanggaran-pelanggaran yang ada di laporkan di
salah satu majalah Jepang, yaitu "Youth A". Mereka mencatat banyak kasus
kriminal yang dilakukan seseorang di bawah usia 20 tahun. Upacara
Seijin Shiki menandakan semua kaum muda harus menyadari kedewasaan
mereka.

Hinamatsuri (3 Maret)

Festival boneka ini mempunyai nama lain seperti Sangatsu Sekku (Festival Bulan 3), Momo Sekku (Festival Persik), Joshi no Sekku (Festival Gadis). Dikenal sebagai Festival Persik karena persik bersemi di awal musim semi dan disimbolkan sebagai keberanian dan kecantikan feminin. Anak perempuan memakai kimono terbaik mereka dan mengunjungi rumah temannya. Di rumah-rumah di tempatkan panggung berisi hina ningyo (boneka hina, sederet boneka yang mewakili kaisar, permaisuri, pelayan, dan musisi yang memakai pakaian kuno) dan sekeluarga merayakan dengan makanan spesial Hishimochi dan Shirozake.

Sotsugyou Shiki/ Nuugaku Shiki (Upacara Kelulusan/ Penerimaan Sekolah)

Sekitar tanggal 20 Maret, upacara kelulusan sekolah diadakan serentak
diseluruh negeri. Bagi semua sekolah di Jepang dan perusahaan yang telah
menyelesaikan laporan keuangan di akhir Maret, bulan April merupakan
tanda dimulainya kembali suasana dan hidup baru. Di bulan April uapacara
penerimaan untuk TK, sekolah dan perusahaan dihiasi dengan kumpulan
bunga ceri.

Hanami (akhir bulan Maret hingga awal April)

Berbagai festival bunga diadakan oleh kuil Shinto selama bulan April. Darmawisata dan piknik dilakukan untuk menikmati bunga, terutama bunga Sakura. Di beberapa tempat, menikmati bunga diadakan berdasarkan hari-hari tertentu yang tetap. Even ini yang paling populer selama musim semi.
selama bulan April.

Tango No Sekku/ Boy's Festival
(Atau biasa disebut hari anak)


Diselenggarakan tanggal 15 Mei. Perayaan ini di dedikasikan untuk laki2
dan perempuan, tapi yang sebenarnya di Jepang sendiri lebih sering di
sebut Tango No Sekku. Tango No Sekku ini merayakan anak laki2 yang
tumbuh sehat dan setiap rumah yang memiliki putra, memajang boneka
perang. Kemudian setiap anak laki2 dimandikan dengan bunga iris (shobu).
Tradisi ini dikenal dengan Shobu-yu dan menandakan hasrat untuk
berjuang untuk memperoleh kekuatan yang memiliki makna yang sama dengan
bunga iris. Sedangkan tanggal 29 April merupakan hari penghijauan dan
tanggal 4 Mei di dedikasikan sebagai hari libur nasional. Kemudian dari
tanggal 29 April-5 Mei dikenal sebagai Golden Week.

Tanabata/ Festival Bintang

Dirayakan tanggal 7 Juli, yang diambil dari legenda China dan telah
menjadi tradisi Jepang. Ada 2 bintang, bintang Cowherd atau Kengyuusei
(Altair) yang datang dari Timur dan bintang Weaver atau Shokujyousei
(Vega) yang datang dari Barat, keduanya terlihat 1 tahun sekali.
Tanabata memiliki sejarah panjang dan pada kenyataannya lebih dari 1000
syair/ sajak disebut dengan Manyoshu (sajak tertua di Jepang) yang
dibuat berdasarkan Tanabata. Selama zaman Edo, Tanabata adalah salah
satu dari 5 festival pejabat dan diakui sebagai upacara negara oleh Edo
Shogunate. Adapun seorang pelukis bernama Hiroshige yang menggambarkan
100 pemandangan Edo dan semua rumah di kota Edo di dekorasi dengan
bambu/ rumput bambu yang menjadi karakteristik dari festival tersebut.
Kemudian tahun 1873 (Era Meiji), Tanabata dihapuskan dari uapacara
negara pada akhir tahun, kerena dianggap sebagai perayaan yang berskala
kecil. Sejak saat itu, beberapa hari sebelum Tanabata, toko alat2 tulis
mulai menjual kertas khayalan untuk menulis syair/ sajak tradisional dan
tanaman bambu untuk dijual. Di TK dan SD membuat dekorasi Tanabata
dengan menggambar dan menghias kelas mereka. Selembar kertas khayalan
yang telah ditulis "Aku ingin menjadi atau ingin seperti..." diikat di
bambu sebagai permohonan.

Obon/ Festival Lentera

Tanggal 5 Agustus. Obon merupakan adat/ tradisi unuk Jepang untuk
mengenang roh nenek moyang yang diharapkan bisa membimbing agar
memperoleh kebahagiaan hidup. Dari Juli- Agustus banyak dikenal dengan
Omatsuri/ Festival seluruh kota, termasuk Kyoto Gion Matsuri, Osaka
Tenjin Matsuri, dll. Obon dimeriahkan dengan pesta kembang api yang
diselenggarakan di sungai Sumudia di Tokyo. Adapun tarian festival Obon
yang ditampilkan di seluruh kota denan para penari yang mengenakan
kimono musim panas. Mereka membentuk lingkaran mengelilingi panggung
bambu yang tinggi sebagai hiburan spesial. Karena itu banyak karyawan
dan pegawai kantor yang mengambil cuti untuk merayakan obon bersama
keluarga sekaligus ziarah ke makam nenek moyang.

Otsukimi/ Fetival Melihat Bulan

Jepang menggunakan kalender bulan, perhitungan hari dan bulan dihitung
menurut besar dan penyusutan bulan. Pada tanggal 15 September merupakan
bulan penuh tau FullMoon yang bertepatan dengan bulan panen bagi para
petani di Jepang. Kalender bulan tertua datang ke Jepang dari Dinasti
Tang (China) atau pada zaman Heian. Tradisi ini menyimbolkan kelahiran
kembali, keabadian dan rasa syukur.

Taii Ku No Hi/ Health- Sports Day

Tanggal 10 Oktober, seluruh sekolah di Jepang menyediakan lapangan
untuk karnaval atletik, Juga sebagai hari libur nasional yang diambil
dari peringatan Tokyo Olympic Games tahun 1964. Festival ini memberikan
kesempatan orang tua untuk menyiapkan Obentou/ bekal makan siang yang
dimakan sambil melihat anak mereka ikut bertanding.

Shichi-Go-San (7-5-3)

Pada tanggal 15 November, anak perempuan yang berumur 7 dan 3 tahun
serta anak laki2 yang berumur 5 tahun mengunjungi kuil dengan ditemani
orang tua mereka. Anak perempuan berumur 7 tahun memakai kimono,
sedangkan anak perempuan berumur 3 tahun mengenakan mantel merah dan
kimono (double), untuk anak laki2 berumur 5 tahun biasanya memakai
jaket. Di kuil, Biksu Shinto memulai uapacara pemurnian untuk menjamin
kesehatan pertumbuhan anak. dan setelah mengunjungi kuil banyak orang membeli chitose-ame (permen seribu tahun) yang dijual di kuil. Zaman dulu, tradisi ini dikenal dengan
Festival Obi. Sebutan Shichi-Go-San ada setelah Era Meiji dan mulai
populer di Tokyo- Kansai dan dirayakan secara nasional.

Setsubun (Festival Sebelum Dimulainya Musim Semi)

Dirayakan pada tanggal 3 Februari, malam sebelum hari pertama musim
semi diadakan setsubun, yaitu menaburkan kacang untuk mencegah godaan
iblis dan memperoleh masa depan yang cerah. Secara khusus ritual ini
dimaksudkan untuk membuang kesialan dan memanggil keberuntungan
menjelang musim semi. Setsubun memiliki poin penting yang menghubungkan 4
musim, musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Setsubun
adalah even penting yang populer dikalangan anak2. Banyak orang dewasa
yang mengenang masa kecil mereka saat melakukan ritual setsubun, yaitu
dengan melampari sang Ayah yang mengenakan topeng iblis (seolah2 iblis)
dengan kacang. Upara setsubun juga dilakukan di kuil di seluruh Jepang.

Ennichi

Pekan raya kuil (hari raya yang berkaitan dengan Kami dan/atau Buddha)

Saimatsu/ The Year End

Tanggal 28 Desember merupakan hari terakhir para pegawai kantor masuk
kerja, sebagai persiapan untuk membersihkan rumah untuk mengakhiri dan
menyambut tahun baru, biasanya disebut Osoji. Hidangan khusus Saimatsu,
yaitu kue nasi atau Kagami-Mochi dicampur dengan soup yang bisa di pesan
dari restoran. Kemudian Toshi-Koshi Soba, yaitu Mie daging rusa. Adat
menyediakan Toshi-Koshi Soba sudah ada sejak zaman Edo dan dimakan
setelah bunyi lonceng atau tanda tahun baru.

Nihongo Nouryoku Shiken

Gelombang ke- 1 Tahun 2011

Kabar gembira bagi Anda yang ingin meng-update kemampuan berbahasa Jepang melalui Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (Nihongo Nouryoku Shiken). Pada tahun 2011 ini Ujian gelombang ke-1 akan dilaksanakan untuk SEMUA LEVEL, yaitu Level N1 s/d N5.

Di Indonesia, Ujian gelombang ke-1 (Juli 2011) ini hanya dilaksanakan di Jakarta.

Pelaksanaan Ujian
Minggu, 3 Juli 2011

Waktu Pendaftaran
14 – 26 Maret 2011

Informasi rinci tentang Pendaftaran Ujian, silakan menghubungi :
P E R S A D A
(alamat dan no kontak tercantum di bawah)

Tempat Pendaftaran
Universitas Darma Persada
The Japan Foundation Jakarta

Sekretariat PERSADA
Jl. Taman Malaka Selatan No.1
Radin Inten II (Terusan Casablanca)
Pondok Kelapa
Jakarta 13450
T. (021) 864 7373
F. (021) 869 00241

Senin – Jumat (Hari Kerja)
Pk. 10.00 – 12.00 WIB
Pk. 13.00 – 17.00 WIB

Sabtu
Pk. 10.00 – 14.00 WIB
Gd. Summitmas 1 lt.3
Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62
Jakarta Selatan
T. (021) 520 1266
F. (021) 525 1750

Senin – Jumat (Hari Kerja)
Pk.10.00 – 12.30 WIB
Pk.13.30 – 16.30 WIB


* Untuk memudahkan pelayanan, pendaftaran secara kolektif dilakukan di Universitas Darma Persada

MOHON PERHATIAN
Apabila ada pihak-pihak yang menawarkan jasa pendaftaran dll. Untuk mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (Nihongo Noryoku Shiken) di luar tempat pendaftaran (Jakarta) di atas, hal tersebut sama sekali tidak ada kaitannya atau tidak ada kerja sama apapun dengan kantor The Japan Foundation di Jepang maupun di Indonesia.

Senin, Maret 14, 2011

CHA NO YU (upacara minum teh)

Kepopuleran teh telah dikenal di seluruh dunia, namun demikian sebagai sarana dalam pergaulan, secara nasional teh paling dikenal di Jepang. Persiapan serta upacara minum teh merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hal estetika serta telah berkembang menjadi suatu seni tersendiri. Di Jepang, apabila orang diundang untuk minum teh, mereka akan duduk di sebuah ruangan kecil sambil berbincang-bincang akrab dengan tuan rumahnya, jauh dari dunia kehidupan sehari-hari. Sang tuan rumah, sebelumnya membersihkan ruangan tersebut, menggantung tulisan hias, menyiapkan perapian guna merebus air untuk membuat teh, serta telah disiapkan pula kue kering kecil. Semua itu dilakukan dengan harapan agar pertemuan tersebut menjadi menyenangkan.

Dewasa ini, adanya modernisasi semakin memudahkan manusia dalam melakukan berbagai macam pekerjaan. Waktu serta energi yang dibutuhkan untuk mempersiapkan serta menyajikan secangkir teh tampaknya bukan hal yang utama. Namun semangkuk teh bilamana disajikan dengan ritual yang diciptakan untuk ketenangan rohani, maka semua orang dapat menemukan “kedamaian dalam semangkuk teh”.

The Japan Foundation, Jakarta akan kembali membuka kursus upacara minum teh (cha no yu) untuk tingkat dasar. Melalui kursus ini diharapkan dapat tercipta sosialisasi, komunikasi yang baik antara peserta kursus dan para pengajar. Kami membantu para peserta untuk memperluas wawasan mereka mengenai budaya Jepang.

WAKTU
Setiap Selasa
pk 13:30 – 15:30
mulai 12 April -26 Juli 2011

TEMPAT
Ruang Serba Guna The Japan Foundation, Jakarta
Gd. Summitmas I lantai 2.
Jl. Jend.Sudirman kav. 61-62
Jakarta Selatan

STAF PENGAJAR
Pakar Upacara Minum Teh Jepang Chado Urasenke Tankokai Indonesia

PESERTA KURSUS
Masyarakat Indonesia > 21 tahun
Diutamakan bagi yang belum pernah mengikuti kursus ini

WAKTU & TEMPAT PENDAFTARAN
21 Maret – 1 April 2011
Senin – Jumat
pk. 09.00 – 12.00 dan
pk. 14.00 – 16:30
di kantor The Japan Foundation, Jakarta, lantai 3.
(apabila peserta sudah mencapai 15 orang, pendaftaran akan ditutup)

PROSEDUR PENDAFTARAN
Mengisi formulir pendaftaran di tempat. Tidak dapat dilakukan melalui telepon atau diwakilkan.
Menyerahkan pas foto ukuran 3x4 dan 2x3 @ 1 lembar.
Menyerahkan fotokopi KTP yang masih berlaku.
Membayar sebagian kecil biaya materi sebesar Rp. 250.000,- untuk 4 bulan kursus (15 kali pertemuan).

Kamis, Maret 03, 2011